Geng Shuai Useless Edison Asal Negeri Tirai Bambu

Geng Shuai Useless Edison Asal Negeri Tirai Bambu

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu faktor penting dalam perkembandan peradaban manusia. Dengan teknologi, maka kita bisa menciptakan barang-barang yang berguna untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari. Namun apa jadinya jika barang penemuan tersebut tidak berguna alias useless? Berikut Right Side Guide akan sajikan kisah dari Geng Shuai Useless Edison asal Negeri Tirai Bambu, Cina.

Perkenalkan, Geng Shuai Useless Edison dari Cina

Masyarakat Cina sering mendapat stereotip sebagai orang yang bisa membuat apapun. Bahkan sampai ada lelucon yang menyebutkan bahwa ‘Dunia 99% diciptakan oleh Tuhan, sisanya diciptakan oleh Cina’. Lelucon ini tentu semakin menguatkan bagaimana luar biasanya bangsa Cina untuk urusan penciptaan (produksi).

Geng Shuai Useless Edison Asal Negeri Tirai Bambu

Lelucon di atas memang kebanyakan digunakan untuk produksi barang KW di Cina. Ya, Negeri Tirai Bambu memang dikenal sebagai ahlinya menciptakan barang tiruan. Namun, bukan berarti di tidak ada barang otentik hasil ciptaan bangsa Cina. Hal ini dibuktikan oleh seorang pemuda asal Cina yang baru-baru ini viral di dunia maya, Geng Shuai.

Nama Geng Shuai akhir-akhir ini sedang populer di kalangan netizen, khususnya netizen Cina. Pria lulusan SMP ini membuat terobosan dalam memanfaatkan media sosial. Ketimbang menggunakan sosmed untuk ber-pamer ria, Geng Shuai justru menggunakannya untuk memperkenalkan barang-barang hasil ciptaannya.

Modal Smartphone dan Internet, Geng Shuai Promosikan Produk Hasil Ciptaannya

Geng Shuai Useless Edison Asal Negeri Tirai Bambu

Bermodalkan kamera smartphone dan internet, Geng melakukan siaran dengan konten dirinya yang mempertontonkan hasil ciptaannya tersebut. Masih terdengar normal? Nah, disinilah plot twist nya teman-teman. Jika biasanya hasil ciptaan itu biasanya canggih, berbeda dengan Geng Shuai. Barang hasil ciptaannya bisa dibilang absurd.

Yes, sepertinya absurd adalah kata-kata yang tepat jika kita tidak ingin bilang sampah. No hurt feeling, tapi memang begitu kenyataannya. Sebanyak 2 juta lebih follower Geng Shuai di media sosial Weibo justru tertarik karena Geng Shuai menciptakan barang-barang unfaedah seperti ini. Dari situlah julukan Geng Shuai Useless Edison muncul.

Geng Shuai Useless Edison Asal Negeri Tirai Bambu

Beberapa Barang Konyol Hasil Ciptaan Geng Shuai Useless Edison

Geng Shuai Useless Edison Asal Negeri Tirai Bambu

Pasti kalian semua juga penasaran bukan barang-barang unfaedah apa saja yang jadi ciptaannya Geng Shuai Useless Edison ini. Sebenarnya banyak, mulai dari casing handphone model golok, sendal untuk jongkok, dasi dari stainless steel dan masih banyak lagi. Yah, untuk lebih lengkapnya, langsung aja liat video di bawah ini yah!

 

Fenomena Banjir Jakarta Sudah Sejak Jaman Belanda

Fenomena Banjir Jakarta Sudah Sejak Jaman Belanda

Fenomena banjir Jakarta bisa dibilang sebagai masalah tahunan yang tidak kunjung bisa terselesaikan. Terlepas dari bagaimana usaha pemerintah dan juga revolusi mental para masyarakat Ibukota. Masalah banjir di Jakarta ini tampaknya menjadi salah satu fenomena yang tidak bisa dihindari. Sampai ada sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa fenomena banjir Jakarta ini bahkan sudah ada sejak jaman pendudukan Belanda, benarkah demikian? Berikut artikel selengkapnya:

Sejarah dan Awal Mula Fenomena Banjir Jakarta

Bicara soal banjir di Jakarta, rasanya kurang lengkap jika kita tidak membahas tentang sejarah di balik fenomena banjir di Jakarta. Yap, seperti yang sudah disebutkan di atas tadi. Banjir di Ibukota ini sudah terjadi sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Hal ini bahkan telah dibahas dalam sejumlah literatur. Seperti misalnya ‘Batavia Kota Banjir’, karya Alwi Shahab dan buku ‘Jakarta: Sejarah 400 Tahun’ karya Susan Blackburn.

Dalam buku-buku tersebut dijelaskan bagaimana banjir telah menjadi masalah yang cukup serius di Jakarta. Dan semua akar permasalahan bermula dari banyaknya pertanyaan para pakar sejarah. Pertanyaan tersebut adalah tentang mengapa seorang Jendral Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen memilih Batavia sebagai pusat pemerintahan.

Kondisi geografis yang sangat tidak cocok sebagai Kota yang menjadi pusat pemerintahan menjadi alasannya. Seperti yang kita semua ketahui (atau mungkin jika anda belum mengetahuinya), sebagian besar wilayah Jakarta (dulu Batavia) merupakan bekas daerah rawa-rawa.

Fakta Menarik Tentang Fenomena Banjir Jakarta

Staff Penerangan Amerika Serikat Salahkan  Jan Pieterszoon Coen

Fenomena Banjir Jakarta Sudah Sejak Jaman Belanda

Seorang staff dari Lembaga Penerangan Amerika Serikat sempat menyatakan pendapatnya soal bagaimana seorang Gubernur Jendral Hindia Batavia, Jan Pieterszoon Coen. Menurutnya, Jan Pieterszoon Coen salah mengambil keputusan untuk memilih Jakarta/Batavia sebagai ibukota Hindia Belanda kala itu.

“Coen telah mendirikan kota di atas rawa-rawa. Andai saja dirinya memilih lokasi lain yang memiliki dataran lebih tinggi, masalah ini setidaknya dapat dikurangi. Dan juga hal ini tidak memusingkan pemimpin selanjutnya.”

Jakarta Sudah Banjir Sejak Jaman Kerajaan Tarumanegara

Fenomena Banjir Jakarta Sudah Sejak Jaman Belanda

Pada Prasasti Tugu di Jakarta Utara tertulis bahwa Raja Purnawarman, Raja Tarumanegara pernah memerintahkan penggalian sepanjang 12 km terhadap Kali Chandrabagha (Bekasi) dan Kali Gomati (Tangerang) sepanjang 12 km untuk mengatasi persoalan banjir. Sangat masuk akal, mengingat saat itu wilayah Jakarta saat ini merupakan bagian dari kerajaan Tarumanegara.

Total 66 Gubernur Jendral Hindia Belanda Gagal Atasi Masalah Banjir

Fenomena Banjir Jakarta Sudah Sejak Jaman Belanda

Jika kalian menganggap bahwa gubernur DKI Jakarta saat ini telah gagal mengatasi persoalan banjir, tidak perlu heran. Sebab faktanya sebanyak 66 orang Gubernur Jendral Hindia Belanda sejak jaman dulu telah gagal mengatasi fenomena banjir Jakarta. Jadi kalau misalnya pemerintah saat ini kesulitan mengatasi banjir, rasanya wajar saja.

Banjir Jakarta Terparah Terjadi Pada 1872

Fenomena Banjir Jakarta Sudah Sejak Jaman Belanda

Batavia pernah mengalami banjir terdahsyat pada tahun 1872. Sluisbrug (Pintu air) di depan Istiqlal sekarang, jebol. Kali Ciliwung meluap dan merendam pertokoan serta hotel di Jl. Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Bukan cuma itu, kawasan Harmoni, Rijswik (Jalan Veteran), dan Noordwijk (Jalan Juanda) juga mengalami juga lumpuh diterjang banjir saat itu.

Grand Design Penanganan Banjir Jakarta Tahun 1895

Fenomena Banjir Jakarta Sudah Sejak Jaman Belanda

Jika saat ini setiap hujan kita selalu was-was menunggu kabar berita tentang pintu air Bogor, ternyata hal tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang di baliknya. Pada tahun 1895 pemerintah kolonial Belanda mencoba merancang grand design untuk menanggulangi persoalan banjir.

Grand design ini meliputi pembangunan di daerah hulu kawasan Puncak hingga hilir daerah estauria Jakarta Utara. Pemerintah kolonial Belanda sadar jika Batavia memang daerahnya berawa-rawa dan banyak memiliki situ. Untuk itu untuk menanggulangi persoalan banjir di kota ini perlu adanya sinergisitas dengan wilayah di sekitar Jakarta.